Menyusuri Wisata Yahud di Bukittinggi

Bukittinggi di Sumbar, melulu ramai kunjungan lokal ataupun mancanegara. Kota ini ngetop dengan panorama alam yang cantik, budaya, wisata belanja serta wisata kuliner yang membuat kenyang. Inilah 6 tempat yahud disana. Siapa yang tak kenal Bukittinggi? Kota yang sempat menjadi ibukota Republik Indonesia ini adalah satu tempat tujuan pariwisata di Pulau Sumatera. Panorama alam eksotis juga budaya disana jadi magnet buat wisatawan. Berwisata ke Bukittinggi bakal meninggalkan pengalaman yang amat berkesan dengan berkunjung ke wisata yahudnya. Inilah obyek wisata wajib dikunjungi traveler kala jalan-jalan di Bukittinggi:

Air Terjun Lembah Anai. Jika pergi dari Padang, menjelang tiba ke Bukittinggi Anda bakal menemui salah satu ikon Sumatera Barat, yakni air terjun Lembah Anai. Posisinya ada pas di tepi jalan Padang-Bukittinggi. Air terjun tersebut ialah bagian kawasan Cagar Alam Lembah Anai. Cagar alamnya merupakan kawasan hutan lindung hutan tropis serta beraneka jenis flora fauna. Alam hijau, dan flora dan faunanya, selaku daya tarik istimewa dari Lembah Anai.

Jam Gadang. Di sentra Kota Bukittinggi, ada semacam alun-alun area pusat keramaian kota lalu ditengahnya ada Jam Gadang. Itulah landmark Kota Bukittinggi. Nuansa sekitar Jam Gadang begitu ramai, khususnya malam Minggu ketika orang-orang sekeliling menghabiskan liburan weekend. Simbol khas Bukittinggi ini punya cerita serta keunikan dalam perjalanan historinya. Hal itu dapat ditelusuri dari ornamen Jam Gadang. Satu keunikan itu ialah angka empat di angka Romawi. Jika umumnya tertulis IV, tetapi Jam Gadang tertera dengan IIII. Dari menaranya, para wisatawan berkesempatan melihat panorama Bukittinggi yang terbentuk dari bukit, lembah, juga bangunan berjajar di tengah kota.

Lobang Jepang. Lobang Jepang yang mirip dengan goa, merupakan bunker bekas Jepang kala menjajah Indonesia. Lobang Jepang itu berada di Bukit Sianok dan bisa disebut sebagai basis pertahanan Jepang terhadap Perang Dunia II dan Perang Asia Timur Raya 1942. Keadaan mistis terasa didalam goa. Konon, ada sebuah ruangan tahanan yang bersamaan berfungsi menjadi ruang penyiksaan. Salah satu kekejaman pasukan Jepang ialah pembunuhan tahanan dengan dicincang. Tidak sesampainya di sana, tubuh yang telah terpotong-potong itu lalu disiram dengan air panas dan garam, tuk memastikan jasad tersebut sudah tidak bernyawa lagi. Serem bener!

Ngarai Sianok. Ngarai Sianok ialah lembah curam atau jurang. Dibawahnya mengalir satu anak sungai yang berliku-liku mengeksplor celah-celah tebing. Latar Ngarai Sianok ialah Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Jurang disana dalamnya kira-kira 100 meter dan terbentang sepanjang 15 Km dengan lebar 200 meter. View indah terhampar bak lukisan alam.

Benteng Fort de Kock. Benteng ini didirikan diatas Bukit Jirek dan mulanya dikasih nama Sterrenschans. Lalu namanya berubah jadi Fort de Kock, by Hendrik Merkus de Kock, yang adalah satu tokoh militer Belanda. Sekian tahun berselang, kota di wilayah benteng ini berevolusi jadi kota yang pun dikasih nama Fort de Kock, yang lalu bernama Bukittinggi. Sekarang, tempat Benteng Fort de Kock jadi Bukittinggi City Park dan Tropical Bird Park.

Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum ini di bangun oleh salah seorang Belanda yang dikenal dengan Mondelar Countrolleur saat tahun 1935. Ini merupakan suatu bangunan berbentuk rumah tradisional yang mempunyai anjuang kiri dan kanan. Gedungnya masih tampak tradisional, semacam atap bangunan masih memakai ijuk, dinding dibikin dari kayu, dan berlantai kayu. Koleksi dari Museum Rumah Adat Baanjuang itu ialah kelompok etnografika, numismatika, hewan yang diawetkan, dan lain-lain. Binatang ini terlahir tak normal, sebab beberapa anggota tubuhnya berlebihan. Hal itu bisa dilihat pada koleksi binatang yang dipamerkan di etalase, semacam kerbau berkepala dua,kaki delapan, dan kambing bermuka dua. Binatang-binatang itu hidupnya tidak tahan lama, ketika mati binatang ini diawetkan lalu menjadi bagian koleksi museum. Koleksi miniatur rumah gadang, rumah makan, surau pun sangat menarik perhatian. Karenanya, rumah-rumah tradisional itu makin lama makin susah dijumpai di Ranah Minang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.